๐ง๐ข๐๐ฌ๐ข, ๐๐ป๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ โ Pemerintah Jepang melalui Acquisition, Technology & Logistics Agency (ATLA) mengumumkan hasil rinci program demonstrasi teknologi rudal jelajah jarak jauh yang dikembangkan oleh Kawasaki Heavy Industries. Pengumuman ini menjadi pemaparan publik pertama sejak proyek tersebut diperkenalkan dalam Konferensi Teknologi ATLA pada November 2025.
Menurut ATLA, sistem yang dikembangkan bukan untuk langsung dioperasikan oleh Japan Self-Defense Forces (JSDF), melainkan sebagai platform demonstrator untuk menguji berbagai subsistem utama dan konsep operasional. Program ini dirancang sebagai fondasi bagi pengembangan rudal jelajah tempur generasi berikutnya di bawah pengelolaan Kementerian Pertahanan Jepang.
Proyek ini berkaitan erat dengan strategi pertahanan pulau Jepang, khususnya dalam melindungi rantai pulau barat daya di kawasan Indo-Pasifik. Tokyo berupaya membangun kemampuan serangan jarak jauh yang mampu menjangkau sasaran di luar garis pertahanan, sekaligus memperkuat daya tangkal independen di tengah meningkatnya dinamika keamanan kawasan.
Sebagai perbandingan, rudal jelajah seperti Tomahawk yang digunakan Amerika Serikat telah lama menjadi standar serangan presisi jarak jauh. Jepang sebelumnya juga mengembangkan varian jarak jauh dari Type 12 Surface-to-Ship Missile, dan proyek terbaru ini diyakini akan melampaui jangkauan sistem tersebut.
Dokumen ATLA mengungkapkan bahwa program ini berfokus pada sejumlah teknologi inti, termasuk pengembangan mesin turbofan kecil untuk meningkatkan daya jelajah, sistem panduan canggih, kemampuan bertahan terhadap sistem pertahanan udara modern, serta integrasi hulu ledak modular. Opsi muatan yang dikaji tidak hanya mencakup hulu ledak konvensional, tetapi juga kemungkinan muatan non-kinetik seperti peperangan elektronik dan sensor pengintaian.

Desain rudal disebut kompatibel dengan sistem peluncuran vertikal (VLS), sehingga berpotensi ditempatkan pada kapal perang maupun platform berbasis darat. Selain itu, integrasi kemampuan manuver terminal diharapkan meningkatkan peluang penetrasi terhadap sistem pertahanan udara lawan.
Meski belum ada jadwal resmi untuk operasional penuh, dokumen pertahanan Jepang mengindikasikan sistem tempur turunan dari demonstrator ini dapat muncul pada awal 2030-an. Pendekatan Tokyo dinilai bertahap dan sistematis, sejalan dengan evolusi kebijakan keamanan nasionalnya.
Rudal dengan jangkauan lebih dari 2.000 kilometer akan secara signifikan memperluas kemampuan pencegahan Jepang. Sebagai negara kepulauan, kemampuan ini memungkinkan perlindungan efektif terhadap jalur laut strategis dan rantai pulau terluar tanpa harus mengerahkan pasukan jauh ke garis depan.
Di sisi lain, pengembangan rudal produksi dalam negeri juga mengurangi ketergantungan pada sistem senjata impor, memperkuat otonomi strategis, serta mempermudah integrasi dengan jaringan intelijen dan sistem penargetan nasional Jepang.
















