banner 728x250

Jeny Claudya Lumowa (Bunda Naomi): Dari Dunia Seni ke Pelopor Perlindungan Perempuan dan Anak

Tokoh yang menghubungkan dunia kreatif dengan advokasi sosial, membawa perubahan dalam cara masyarakat melihat perlindungan dan pemberitaan terkait perempuan serta anak

banner 120x600

𝗝𝗮𝗸𝗮𝗿𝘁𝗮| 𝟰 𝗝𝗮𝗻𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲|𝗔𝗻𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺 – Jeny Claudya Lumowa, yang akrab disapa Bunda Naomi, adalah aktivis perlindungan perempuan dan anak yang bukan hanya dikenal sebagai Ketua Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (TRCPPA), tetapi juga memiliki latar belakang yang kaya dalam dunia seni dan pendidikan sebelum terjun ke bidang sosial. Beliau memiliki prinsip hidup yang kuat, yaitu “belajar sampai tua”, yang membuatnya terus mengembangkan diri bahkan hingga ke ranah hukum.

Beliau menyelesaikan pendidikan di bidang Public Relations di Surabaya dan menyelesaikan Akademi Sekretaris di Institut Minerva pada tahun 1996. Sebelumnya, pada tahun 1994, Jeny memulai karir sebagai model di Surabaya dan meraih gelar “Nih Surabaya” pada tahun 1995, dengan meraih ratusan prestasi dalam dunia modeling.

Setelah sukses di dunia modeling, ia pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Teater Populer – sebuah teater legenda yang didirikan pada tahun 1968 oleh Slamet Rahardjo Djarot (aktor, sutradara, dan penulis skenario legenda Indonesia) bersama Tegu Karya serta sejumlah seniman lainnya. Setelah wafatnya Tegu Karya, Slamet Rahardjo meneruskan kepemimpinan teater ini, yang telah melahirkan banyak karya film dan teater berprestasi serta mencetak generasi seniman berkualitas. Jeny bergabung di sini untuk mengasah bakat seni yang ada padanya dan selama berkarier di dunia seni, ia juga membintangi puluhan judul Film Televisi (FTV) di produksi Multivision Plus.

Pada tahun 2004, beliau memutuskan untuk meninggalkan dunia seni dan memasuki dunia sosial. Ia belajar langsung dari Bapak Aris Merdeka Sirait, senior pejuang hak anak di Lembaga Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak). Sejak itu, prestasi demi prestasi terus diraihnya dalam bidang perlindungan anak dan perempuan, termasuk juga mendalami dunia hukum untuk memperkuat advokasi yang dilakukan.

Jeny menjadi relawan awal National Team for Aceh (NTA) pada saat tragedi tsunami Aceh dan juga memiliki peran penting dalam penanganan tragedi Angelin. Kontribusinya yang luar biasa membuatnya dipanggil ke Istana oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2017.

Pada tahun yang sama, ia dipercaya oleh Aris Merdeka Sirait untuk memimpin lembaga yang awalnya bernama TRCPA, kemudian bertransformasi menjadi TRCPPA. Dari situlah muncul istilah “TRC” yang kemudian banyak diikuti oleh berbagai inisiatif serupa di seluruh Indonesia.

Sebagai pelopor, Bunda Naomi juga membawa perubahan signifikan dalam cara media mengabarkan berita terkait perempuan dan anak. Beliau memperkenalkan konsep “Don’t be good news be bad news.. Good news is good news!” – mengajak agar pemberitaan tidak hanya fokus pada kasus negatif, tetapi juga mengangkat berita positif yang dapat menginspirasi perubahan.

Hubungi untuk informasi lebih lanjut:

Tim Humas TRCPPA

Email: humas@trcppa1@gmail.com

Telepon: 082132232612

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *